Judul : Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses
link : Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses
Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses
Beragam kisah kisah sukses dari seseorang yang tadinya hidup morat marit dan melarat,selalu menarik untuk di simak .Karena selain inspiratif,juga dapat dijadikan motivasi diri ,untuk meraih kesuksesan ,tidak peduli dari latar belakang hidup yang bagaimanapun.
Salah satu kisah nyata dari kesuksesan untuk mengubah nasibnya, berasal dari seorang petarung bayaran "Man", yang bernama lengkap Othman Bhin Said, dilahirkan dalam keluarga sederhana di pinggiran kota Bangkok, ibu kota negara Thailand.
Karena kondisi orang tuanya yang tidak mampu menyekolahkannya, maka Man tumbuh secara liar dikampungnya.
Sejak kecil ia sudah berkerja secara serabutan,untuk membantu keuangan keluarga. Hingga suatu waktu, diajak temannya untuk ikut berlatih Tai Boxing. Karena bila ia mampu, maka hidup sebagai Petarung bayaran,akan dapat mengubah hidup mereka. Maka terdorong oleh hasrat hati untuk mengubah nasib, Man mulai berlatih Tai Boxing tanpa kenal lelah.
Dalam waktu yang relatif singkat, ia sudah menguasai tehnik bela diri ini.
USIA 18 TAHUN SUDAH MENJADI PETARUNG BAYARAN
Dalam usia yang masih sangat muda, dimana remaja seusianya seharusnya duduk dibangku kuliah, tetapi bagi Man,justru mulai mempertaruhkan hidupnya,untuk mendapatkan uang. Karena dalam pertarungan bayaran, diijinkan untuk melakukan “full body contact”, artinya apapun boleh dilakukan untuk memenangkan pertarungan, jadi tidak ada aturannya seperti pertandingan tinju yang bersifat universal.
Kalah atau menang, kedua petarung akan dibayar. Tapi yang menang akan mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Lebih dari 10 tahun Man mengeluti pertarungan maut ini, hingga suatu waktu ia menyaksikan teman akrabnya batuk darah dan kemudian meninggal dalam usia 35 tahun akibat sering dihantam lawannya.
Selang sebulan, satu lagi temannya gugur.
Hal ini mulai menyadarkan Man,bahwa pekerjaan ini tidak akan berlangsung lama. Bila ia tetap pada profesi ini, maka dipastikan nasibnya tidak akan beda dengan 2 temannya yang sudah meninggal dalam usia muda.
Berkat ketekunannya Man berhasil dan membuka rumah makan yang lebih baik dan akhirnya dia bisa membuka rumah Makan yang cukup terkenal di Serembam.
Kami mengenal Man sejak 10 tahun lalu dikota Medan Ketika kami ke KualaLumpur, iseng iseng saya menelepon Man. Ia menjawab dengan antusias, karena sudah lama kami tidak berjumpa.Man langsung bertanya kami menginap di hotel apa?
“Ibu dan bapak,jangan kemana mana ya, saya kesana sekarang”, jawab Man.Sekitar hampir 1jam kemudian.
Man sudah sampai di hotel, dimana kami menginap dan langsung diajak pergi. .Perjalanan kira-kira 1jam lebih kami tiba di Jelabu Serembam. Luas tanah tempat Man usaha lebih kurang 1 ha, jadi pakiran tidak ada masaalah.
Ketika kami tiba kami disambut oleh isteri Man. Disini Man mempekerjakan 90 orang karyawan, yang melayani kita semua wanita berkerudung. Sementara menunggu makanan dihidangkan, Man menceritakan dia bisa menjual kelapa muda 1500 biji dalam seminggu. Kelapa ini dikupas pakai mesin dan sudah dipotong sedemikian sehingga sangat rapi dan bersih, menyebabkan orang senang menikmati kelapa muda ini dan jadi tidak ragu memakannya.
Kami disuguhi bermacam macam makanan laut berserta ikan yang segar dan Tom Yam. Kami mengobrol hilir mudik hingga larut malam. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30, tapi pengunjung restaurant masih tetap berdatangan.
Menurut Man, restaurant berikut aset tanah seluas lebih kurang satu hektar,sudah menjadi miliknya. Sungguh suatu kesuksesan yang luar biasa. Selesai santap malam.kami diantarkan kembali ke hotel.
Kesuksesan ternyata tidak melunturkan persahabatan kami. Suatu kejutan Esok paginya, ketika kami akan melunaskan biaya penginapan hotel, ternyata sudah dilunasi oleh Man. Bahkan transportasi ke bandara juga sudah dibayarin. Kami terpana, bukan karena masalah uangnya, tapi rasa persahabatan yang tidak kunjung padam dari Man. Beda bangsa, beda agama dan sudah 10 tahun kami tidak berjumpa, namun kesuksesan ternyata tidak membuat Man melupakan persahabatan kami.
Seperti diceritakan oleh Roselina Tjiptadinata di Kompasiana
Salah satu kisah nyata dari kesuksesan untuk mengubah nasibnya, berasal dari seorang petarung bayaran "Man", yang bernama lengkap Othman Bhin Said, dilahirkan dalam keluarga sederhana di pinggiran kota Bangkok, ibu kota negara Thailand.
Karena kondisi orang tuanya yang tidak mampu menyekolahkannya, maka Man tumbuh secara liar dikampungnya.
Sejak kecil ia sudah berkerja secara serabutan,untuk membantu keuangan keluarga. Hingga suatu waktu, diajak temannya untuk ikut berlatih Tai Boxing. Karena bila ia mampu, maka hidup sebagai Petarung bayaran,akan dapat mengubah hidup mereka. Maka terdorong oleh hasrat hati untuk mengubah nasib, Man mulai berlatih Tai Boxing tanpa kenal lelah.
Dalam waktu yang relatif singkat, ia sudah menguasai tehnik bela diri ini.
USIA 18 TAHUN SUDAH MENJADI PETARUNG BAYARAN
Dalam usia yang masih sangat muda, dimana remaja seusianya seharusnya duduk dibangku kuliah, tetapi bagi Man,justru mulai mempertaruhkan hidupnya,untuk mendapatkan uang. Karena dalam pertarungan bayaran, diijinkan untuk melakukan “full body contact”, artinya apapun boleh dilakukan untuk memenangkan pertarungan, jadi tidak ada aturannya seperti pertandingan tinju yang bersifat universal.
Kalah atau menang, kedua petarung akan dibayar. Tapi yang menang akan mendapatkan bayaran yang lebih tinggi. Lebih dari 10 tahun Man mengeluti pertarungan maut ini, hingga suatu waktu ia menyaksikan teman akrabnya batuk darah dan kemudian meninggal dalam usia 35 tahun akibat sering dihantam lawannya.
Selang sebulan, satu lagi temannya gugur.
Hal ini mulai menyadarkan Man,bahwa pekerjaan ini tidak akan berlangsung lama. Bila ia tetap pada profesi ini, maka dipastikan nasibnya tidak akan beda dengan 2 temannya yang sudah meninggal dalam usia muda.
MERANTAU UNTUK MENGUBAH NASIB
Man memutuskan untuk merantau ke Malaysia untuk mengubah nasibnya. Di sini ia bekerja di restaurant yang besar dan sukses. Man yang dikenal rajin dalam bekerja, dia disayangi bos sampai-sampai bosnya bersedia memberi Man pinjaman duit untuk mencoba membuka rumah makan kecil-kecilan.Berkat ketekunannya Man berhasil dan membuka rumah makan yang lebih baik dan akhirnya dia bisa membuka rumah Makan yang cukup terkenal di Serembam.
Kami mengenal Man sejak 10 tahun lalu dikota Medan Ketika kami ke KualaLumpur, iseng iseng saya menelepon Man. Ia menjawab dengan antusias, karena sudah lama kami tidak berjumpa.Man langsung bertanya kami menginap di hotel apa?
“Ibu dan bapak,jangan kemana mana ya, saya kesana sekarang”, jawab Man.Sekitar hampir 1jam kemudian.
Man sudah sampai di hotel, dimana kami menginap dan langsung diajak pergi. .Perjalanan kira-kira 1jam lebih kami tiba di Jelabu Serembam. Luas tanah tempat Man usaha lebih kurang 1 ha, jadi pakiran tidak ada masaalah.
Ketika kami tiba kami disambut oleh isteri Man. Disini Man mempekerjakan 90 orang karyawan, yang melayani kita semua wanita berkerudung. Sementara menunggu makanan dihidangkan, Man menceritakan dia bisa menjual kelapa muda 1500 biji dalam seminggu. Kelapa ini dikupas pakai mesin dan sudah dipotong sedemikian sehingga sangat rapi dan bersih, menyebabkan orang senang menikmati kelapa muda ini dan jadi tidak ragu memakannya.
Kami disuguhi bermacam macam makanan laut berserta ikan yang segar dan Tom Yam. Kami mengobrol hilir mudik hingga larut malam. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30, tapi pengunjung restaurant masih tetap berdatangan.
Menurut Man, restaurant berikut aset tanah seluas lebih kurang satu hektar,sudah menjadi miliknya. Sungguh suatu kesuksesan yang luar biasa. Selesai santap malam.kami diantarkan kembali ke hotel.
Kesuksesan ternyata tidak melunturkan persahabatan kami. Suatu kejutan Esok paginya, ketika kami akan melunaskan biaya penginapan hotel, ternyata sudah dilunasi oleh Man. Bahkan transportasi ke bandara juga sudah dibayarin. Kami terpana, bukan karena masalah uangnya, tapi rasa persahabatan yang tidak kunjung padam dari Man. Beda bangsa, beda agama dan sudah 10 tahun kami tidak berjumpa, namun kesuksesan ternyata tidak membuat Man melupakan persahabatan kami.
Seperti diceritakan oleh Roselina Tjiptadinata di Kompasiana
Demikianlah Artikel Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses
Sekianlah artikel Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/10/dari-seorang-thai-boxing-bayaran.html

0 Response to "Dari Seorang Thai Boxing Bayaran Menjadi Pengusaha Sukses"
Post a Comment