Judul : Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela
link : Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela
Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela
"Saya adalah keturunan asli Afrika Selatan yang tinggal jauh di rantau orang. Banyak orang bilang bahwa walaupun kita di rantau, kita masih bisa menyematkan tanah kelahiran kita di hati. Tapi sayangnya hal itu tidak benar. Kita akan lupa tentang hal menarik dari tanah air kita jika terlalu lama di negeri orang."Saya menyadari sebuah kenyataan yang indah di depan mata minggu ini : menyaksikan gelombang, iring-iringan manusia di seluruh negeri yang tiada henti untuk memberi penghormatan. Manusia-manusia yang teguh mengadakan perjalanan yang jauh hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa dia telah memberikan penghormatan yang pantas untuk seorang lelaki yang kami sebut "Bapak Bangsa Kami". Pemandangan ini begitu menarik! Orang-orang dengan beragam warna kulit dan keyakinan berangkat dari rumah-rumah mereka hanya untuk memperlihatkan hubungan dengan sang pemersatu : Nelson Mandela
Kami tidak menyaksikan suasana duka yang mengharu biru disini tapi lebih mirip sebuah perayaan terhadap kehidupan yang menakjubkan. Orang-orang menari dan bernyanyi. Di Afrika, orang-orang menghadapi kesedihan dengan cara yang berbeda. Kesedihan adalah menu harian mereka dan itu menjadikan orang Afrika sebagai contoh bagaimana berbahagia yang sesungguhnya. Mereka menyikapi kepergian Nelson Mandela dengan cara yang mereka tahu. Mereka menari dan bernyanyi dengan .... Mandela yang ikut menari.
Saya tiba di Soweto dan fotografer yang pertama kali saya temui adalah : Joao Silva. Silva adalah seorang fotografer perang NY Times yang terkenal. Dia kehilangan dua kakinya di Afganistan saat terkena ledakan ranjau darat. Dan sekarang Silva, dengan kedua kaki palsunya sedang berdiri disini, melakukan pekerjaan yang dicintainya di tengah kerumunan orang-orang Afrika.
Negeri ini kadang-kadang bisa sangat bijak.
Banyak ucapan-ucapan Nelson Mandela yang abadi, tapi ada satu ucapan yang akan selalu saya ingat, tentang bahwa setiap orang mempunyai hak sama, tak kurang dari orang lainnya, dan bahwa seharusnya setiap orang membiarkan cahaya dalam dirinya bersinar sehingga bisa menjadi pelita bagi orang lain. Saya teringat kata-kata itu saat sedang mengambil foto 3 orang Zimbabwe yang sedang berdoa untuk Mandela dari atas bukit yang menghadap ke Johannesburg. Mereka sangat berharap Mugabe bisa meniru Mandela. Tanah air mereka yang porak poranda bukan berarti tak tersisa harapan sedikitpun disana. Saat itu pula saya teringat sebuah ucapan Nelson Mandela yang terkenal :
Sepanjang hidupku saya mendedikasikanya untuk perjuangan orang-orang Afrika. Saya berjuang melawan dominasi orang kulit putih dan saya juga berjuang melawan dominasi orang kulit hitam. Saya selalu memimpikan sebuah bentuk demokrasi yang ideal dan masyarakat yang merdeka dimana setiap orang dapat hidup dalam harmoni dan mempunyai kesempatan yang sama. Sebuah bentuk kehidupan yang selalu saya impikan dan akan selalu saya perjuangkan agar menjadi kenyataan. Tetapi, Oh Tuhanku, Jika seandainya terjadi, itu adalah sebuah kehidupan yang saya rela tukar dengan kematian saya. --- Nelson Mandela
Tragedi sesungguhnya adalah Nelson Mandela tidak dibebaskan dari penjara sebagai pemuda. Seandainya Mandela muda bisa hidup bebas, kita tidak bisa membayangkan, hal seperti apa yang bisa dicapai oleh Mandela. Alangkah naif bila kita hanya berharap pada Nelson Mandela, karena apa yang diperjuangkan oleh Nelson Mandela adalah sesuatu yang seharusnya setiap orang perjuangkan.
Orang-orang itu telah berjalan berkilo-kilo meter, duduk di bawah guyuran hujan untuk mengenang hidupnya dan menegaskan namanya dalam kilauan sejarah.
Pada saat presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma muncul, orang-orang serentak mencemooh dan meneriakinya. Cemoohan itu terus berlanjut saat wajah Zuma tersorot kamera. Cemoohan baru reda saat pendeta Tutu meminta mereka untuk tenang. Mereka tahu soal rumah Zuma yang harganya mencapai lebih dari 200 juta US dolar. Sebuah kemewahan yang dibiayai dari pajak dan seharusnya tidak dilakukan oleh Zuma.
Saat Obama berpidato saya seperti melihat Nelson Mandela muda. Orang-orang serentak diam.
Untuk seluruh rakyat Afrika Selatan, sebuah masyarakat dari beragam ras, dunia mengucapkan terima kasih kepada kalian karena telah berbagi Nelson Mandela dengan kami. Perjuangannya adalah perjuangan kalian, kemenangannya adalah kemenangan kalian. Harapan dan kemuliaan kalian terpancar dari kehidupannya. Dan kemerdekaan kalian, demokrasi kalian, adalah sebuah warisan yang sangat berharga -- Barrack Obama
Sumber Foto dan Diterjemahkan dari The National Geographics
Demikianlah Artikel Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela
Sekianlah artikel Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/12/brent-stirton-ode-anak-negeri-untuk.html




0 Response to "Brent Stirton : Ode Anak Negeri untuk Nelson Mandela"
Post a Comment