Judul : Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan
link : Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan
Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan
| Sastra |
Cinta yang indah, yang tragis dan penuh dosa.
Denganmu aku tak peduli kemanakah cintaku
Akan digolongkan
Walaupun segenap bintang redup
Karena cintaku yang benderang
Aku masih
Punya rembulan
tempatku menyimpan
ikrar yang selalu bertautan
Mendung hitam berarak. Sebentar lagi hujan. Sudah satu minggu ini cuaca tidak bersahabat. Angin bulan September seperti penanda musim kawin segera tiba.
Bayang-bayang malaikat sama samarnya dengan bayang-bayang setan. Mendung dan gelap penuh kebimbangan. Apakah hujan jadi turun atau justru awan yang akan berlalu. Mungkin saja dia cuma singgah sebentar. Beberapa orang yang sudah berkemas-kemas hendak pergi sampai harus berhitung bersama tokek : pergi-jangan-pergi-jangan-pergi. Padahal sang tokek juga tidak kemana-mana.
Dia, seperti terlintas begitu saja. Aku dan wanita itu akan jalan-jalan di cuaca yang tidak bersahabat. Nurhasanah, wanita yang telah membuatku bertahan selama beberapa bulan terakhir ini. Aku, pengangguran yang sombong katanya. Tentu saja aku tidak setuju dengan pendapatnya. Penilaian yang tanpa dasar. Menurutku, aku ini Percaya diri
Nurhasanah adalah the wrong woman on the right time. Aku tidak mencintainya. Sungguh! Hanya memandangnya sebagai teman bicara yang menyenangkan dan membuatku bersemangat. Kata-katanya selalu punya daya magis yang menghipnotis. Dan lebih dari segalanya, dia berhasil meyakinkanku akan potensiku yang sesungguhnya. Kupikir dia lebih tahu aku dari pada aku sendiri.
Menurutnya aku hebat.
Aku memang senang dipuji.
Menurutnya aku hebat.
Aku memang senang dipuji.
Aku membenarkannya walaupun diawali dengan malu-malu. Menggeleng tapi hati mengangguk dalam-dalam. Lama-lama aku seakan terobsesi dengannya. Bukan hanya dengan kata-katanya tapi juga dengan tubuhnya.
Semuanya menjadi absurd, aku tak punya alasan untuk melakukan sebuah tindakan, kecuali nafsu makan dan bercinta. Ada yang memberi dan aku menerima. Saat itu harga diri dan keuanganku berada di titik nadhir. Dia bukan hanya memberiku semangat tapi juga hampir setiap hari membawakanku makanan.
Di saat-saat tertentu, saat kedatangannya tak bisa dipastikan karena suaminya kebetulan sedang di rumah (suaminya kerja di hotel di jakarta), aku menjadi sulit tidur dan malas bangun. Dan bila masa itu berlalu (biasanya suaminya di rumah cuma 2 hari) aku kembali bergairah. Seperti katak saat musim kawin tiba.
Dan kini mendung membuatku resah. Aku ingin bertemu dengannya hari ini, karena memang kami sudah berjanji untuk bertemu. Masih banyak kisah yang belum kami tautkan, masih banyak jalan yang belum kami lalui, dan masih banyak alibi yang dia bisa pakai untuk sekali lagi mencintai.
Sebuah pesan pendek masuk. "jangan pergi. Aku kesitu. Hujan sebentar lagi turun."
Sebuah pesan pendek masuk. "jangan pergi. Aku kesitu. Hujan sebentar lagi turun."
Langit masih gulita, bahkan kini bertambah gelap padahal sore juga belum menjelang. Tetesan-tetesan hujan mulai turun. Angin lebih jinak. Aku membuat kopi dan teh pahit kesukaannya.
Tidak lama kemudian dia datang.
Dan terjadi lagi.
Dunia milik kami berdua.
Demikianlah Artikel Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan
Sekianlah artikel Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/03/chapter-1-sebentar-lagi-hujan.html
0 Response to "Chapter 1 : Sebentar Lagi Hujan"
Post a Comment