Judul : Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir
link : Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir
Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir
Aku mulai menyibukkan menulis lagi. Menulis novel, puisi atau sekedar diary. Membunuh waktu dan menghilangkan ingatanku tentang Nurhasanah.
Sesekali aku teringat hari ini suaminya pulang. Entah kapan mereka akan datang. Aku malas memikirkannya.
Aku mencoba menulis lagi, membeli buku dan pulpen selusin.
Entah kapan novelku diterbitkan oleh penerbit.
Usaha pertamaku dulu gagal. Sebuah novel remaja yang kukira akan menjadi masterpiece dari seorang Burhanuddin, namun akhirnya teronggok seperti sampah di rak. Beberapa penerbit yang kukirimi naskah itu menolaknya. Cuma ada satu penerbit yang pada awalnya seperti akan membuat cita-citaku terwujud, namaku terpajang di rak toko buku. Sang editor memuji novelku habis-habisan. Dia berjanji akan segera membuat kontrak denganku. Katanya butuh waktu satu minggu untuk rapat dan memutuskan kapan novelku akan diterbitkan. Dia memuji novel itu karena cara penulisanku yang berbeda dari penulis-penulis Indonesia lainnya. Detail dan penceritaannya mirip dengan novel The Little Prince karya Antoine de Saint Exupery.
[caption id="" align="alignleft" width="250" caption="Menulis hingga jari-jari berdarah"]
Hatiku berbunga-bunga, pada semua orang yang kukenal, tak peduli mereka akan senang atau tidak, kukabarkan berita itu. Ibuku gembira bukan kepalang, mendengar anaknya akan serupa Chairil Anwar atau Hans Christian Andersen. Hah! Darimana nama-nama itu dia dapatkan? Dari kertas Koran pembungkus sayur, jawabnya begitu kutanya. Amazing! Pembungkus sayur memuat nama Hans Christian Andersen dan juga Chairil Anwar. Kelak namaku juga..?
Malang bagiku, akhirnya sang editor pindah ke penerbit lain dan diganti editor baru. Dan sialnya, perusahaan penerbitan itu mempunyai manajemen yang amburadul. Mungkin aku perlu menggunakan kata yang buruk dari amburadul jika ada. Tidak ada koordinasi sama sekali. Ketika kutelepon seminggu kemudian, editor baru bilang dia tidak tahu menahu tentang novelku karena tidak ada titipan pesan yang ditinggalkan. Tapi dia berjanji untuk memeriksa novelku dan kebetulan hardcopy-nya masih tersimpan di arsip editor.
Aku berterima kasih akan kebaikan hatinya tapi mengutuk penerbit itu secara keseluruhan. Dia berjanji untuk menghubungiku satu minggu lagi untuk memberitahukan hasilnya, karena dia musti membaca novelku secara lengkap. Dia memenuhi janjinya.
Seminggu kemudian dia menghubungiku dan tanpa basa-basi menjelaskan tentang 12 kesalahan fatal yang ada dalam novelku. Katanya aku adalah penulis pemula yang naif karena seperti ingin mencurahkan semua yang kutahu ke dalam sebuah novel, alurnya amburadul (busyeet.! Apakah dia akan menggunakan kata yang lebih buruk dari amburadul jika ada untuk menggambarkan novelku?) dan konsepnya tidak cocok dengan konsep penerbit itu secara umum.
Bahasa yang kupakai tidak senonoh, banyak kata-kata yang kurang cocok untuk dibaca oleh anak-anak remaja yang menjadi segmen pasar novel itu. Dan tokoh utamanya, seorang siswa kelas 1 SMP, yang dalam kenyataannya too good to be true. Faktanya impossible ada siswa kelas 1 SMP yang sepintar itu. Sherlock Holmes saja tidak sepandai dia saat usia dua belasan katanya. Emang dia tahu seperti apa Sherlock Homes saat remaja. Tapi dia mencoba untuk menghiburku dengan mengatakan ada beberapa poin positif yang bisa diambil, seperti detail penceritaan yang bagus, gaya bahasa yang lugas (cuma pemakaian kata harus lebih hati-hati) dan kalau aku mau meng-editnya mungkin saja mereka mau menerbitkannya. Aku mengiyakan tapi dalam hati aku tidak yakin mau melakukannya.
Saran yang dia berikan adalah merubah usia sang tokoh utama dan tokoh-tokoh lainnya. Anak SMS kelas 3 lebih masuk akal, katanya. Terbayang olehku bukan hanya mengedit tapi juga aku harus memulainya lagi dari awal. Novel dengan jumlah kata 42.987.
Aku tidak jadi meng-editnya. Sebagai gantinya aku mencoba mengirimkan novel tersebut ke beberapa penerbit. Siapa tahu penilaian mereka berbeda. Tapi ternyata semua penerbit yang kukirimi naskah tak satupun mau menerbitkannya. Mungkin aku harus mengirimkan lagi ke penerbit lainnya, lagi dan lagi hingga penerbit ke-1000 mau menerbitkannya. Seperti buku Chicken Soup for the Soul yang ditolak ratusan penerbit dan akhirnya menjadi best seller. Tapi ada berapa penerbit di Indonesia?
Aku penasaran dan mencoba membaca kembali novelku. Entah kenapa akhirnya aku setuju dengan penerbit-penerbit tersebut. Novelku tidak bagus sama sekali.
Ide untuk merombak isi novel itu segera kulupakan dan aku memulai sebuah proyek penulisan novel baru. Tapi sampai sekarang satu novelpun tak pernah aku selesaikan.
Aku bertekad untuk memulai sebuah perjuangan baru.
Demikianlah Artikel Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir
Sekianlah artikel Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/03/chapter-9-malas-bekerja-rajin-berpikir.html
0 Response to "Chapter 9 : Malas Bekerja, Rajin Berpikir"
Post a Comment