Judul : Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala
link : Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala
Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala
Pantai selalu bisa membuatku segar kembali.
Pantai manapun, yang jorok maupun yang indah permai.
Hamparan air luas membentang, memberiku jarak pandang tanpa batas. Tanpa sekat ruang atau waktu. Sejorok apapun udara di pantai selalu segar kurasakan.
Sesampai di sana aku ingin menikmati kesendirian beberapa menit, menghirup baunya dalam-dalam, menyimpannya dalam kantung paru-paru hingga bisa kurasakan selama berhari-hari.
Butuh waktu 3 jam untuk sampai di pantai Pakis dengan berkendara motor. Tidak terasa begitu lama untuk dua orang yang sedang kasmaran.
Malah lebih jauh lebih baik. Cuma pantat saja yang pegal-pegal. Sebentar istirahat saja sudah hilang rasa pegal itu.
Kami sengaja menjauh dari kumpulan pedagang yang banyak bertebaran di sana.
Kami butuh privacy, seperti di tempat-tempat lainnya juga.
Sebelum sempat menikmati pantai seperti yang biasa kulakukan, Nurhasanah tiba-tiba berdiri di sampingku dan berkata :
"Kita tidak boleh bersama-sama lagi. Suamiku sudah tahu hubungan kita."
Laut yang luas membentang tiba-tiba terasa sempit dan gelap.
Cahayaku menghilang
Demikianlah Artikel Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala
Sekianlah artikel Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/03/chapter-7-tersekat-dalam-batas-cakrawala.html
0 Response to "Chapter 7 : Tersekat Dalam Batas Cakrawala"
Post a Comment