Judul : Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota
link : Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota
Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota
![]() |
| Sastra |
Hambar dan tanpa sentimentilisme.
Aneh! Aku bahkan tak merasa bernostalgia saat ini.
Karena diperhentikan dari pekerjaanku di Jakarta akhirnya aku kembali. Tanpa ide dan tanpa rencana. Tiba-tiba saja aku kesini dan akhirnya mengontrak sebuah rumah untuk tinggal.
Tak butuh waktu lama bagiku untuk mencintai kota ini. Semua karena wanita itu.
Setelah beberapa lama tinggal di kota ini akhirnya aku mendapat pekerjaan. Mengajar di sebuah Sekolah Menengah Pertama. Dari mengajar di sekolah tersebut akhirnya aku juga membuka les privat di rumah, sambil sesekali mengerjakan tulisanku yang seringkali tertunda.
Atas ajakan Nurhasanahlah aku akhirnya mau mengajar di sekolah itu. Awalnya aku menolak untuk mengajar di sana, karena aku tidak mau terikat dan yang terpenting : aku suka telat untuk merespon hari aka susah bangun pagi. Semenjak menganggur, kebiasaan tidurku menjadi tak terkendali. Dini hari baru terlelap dan terbangun di siang bolong.
Bukan sekali dua kali dia mengajakku, sampai akhirnya, entah bagaimana dia berhasil menyeretku hingga tiba-tiba berdiri di depan kelas 2 yang harus aku ajar.
Kelas 2 SMP itu hanya berisi 21 murid. Laki-laki 5 dan sisanya perempuan. Sekolah itu baru berdiri 2 tahun, dan karenanya kelas 2 adalah kelas tertinggi. Siswanya berasal dari keluarga-keluarga yang tidak mampu. Menurut cerita yang kudengar, yayasan Al Makmun sampai harus keliling kampung untuk mendata dan membujuk para orang tua agar mau menyekolahkan anaknya tanpa biaya. Belakangan (saat ini aku sudah keluar dari sekolah itu) aku dengar, sekolah itu sudah tidak se-volunteer dulu. Tidak beda dengan yang lain, mereka menjadi komersil, dan payahnya kondisinya tidak jauh berbeda dengan saat semuanya serba gratis, dari biaya sekolah hingga seragam.
Anak-anak kelas 2 antusias dengan guru barunya, aku. Satu persatu aku coba mengenal mereka. Dan tidak makan waktu lama aku merasa menjadi bagian mereka. Salah satu dari siswa putri memandangku dengan cara yang berbeda. Lina, nampaknya dia telah dewasa sebelum waktunya. Tak kusangka aku bertemu Lolita disini. Aku mengacuhkan arti pandangannya dan lebih menikmati mengajar secara keseluruhan.
"Aku bilang juga apa? Kamu terlahir untuk jadi guru. " Kata Nurhasanah setelah aku bercerita dengan antusias tentang anak-anak kelas 2. Aku bilang ada bakat-bakat yang terpendam dan siap diasah, tinggal bagaimana para guru mampu mengolahnya walaupun mereka berasal dari keluarga yang tidak mampu. Tentu saja aku tidak menceritakan bakat Lina yang pandai menggoda pria.
"Hanya perasaanmu saja. Aku tidak ingin jadi guru. Jiwaku terpanggil untuk menjadi penulis. " Kilahku.
Aku memang bersemangat dengan kegiatan mengajar tapi mungkin karena situasinya berbeda. Motifku pada awalnya hanya ingin membantu sekolah ini untuk memberikan pendidikan yang benar-benar gratis, dan juga terharu demi mendengar cerita tentang perjuangan sekolah ini untuk mendapatkan murid.
Kepada Kepala Sekolah terlebih dahulu aku bilang bahwa aku ini susah untuk bangun pagi, hingga mungkin akan sering terlambat. Dia bilang tidak apa-apa, nanti juga akan terbiasa bangun pagi.
Sungguh! Aku senang mendengar jawaban seperti itu.
"Apa salahnya jika disamping dalam proses menjadi penulis kamu juga guru."
Dia memang bukan orang yang pandai untuk mengalah, walaupun untuk urusan yang sepele. Akhirnya aku mengalah dan memilih menjawab dalam hati.
Guru?
Apalagi guru honorer?
Cuapeknya minta ampun. Dan ini yang paling masuk akal bagiku : aku malas bekerja dan rajin berpikir. Dengan rajin berpikir itulah maka aku lebih cocok menjadi penulis. Kira-kira itulah tesis sementaraku tentang keengganan aku mengajar.
Perdebatan ini pasti tak kunjung usai hingga kopi dalam gelasku tandas.
Belakangan aku tahu, bukan hanya denganku saja dia begitu, tapi dengan suaminya juga.
Demikianlah Artikel Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota
Sekianlah artikel Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/03/chapter-2-kisah-sebuah-kota.html

0 Response to "Chapter 2 : Kisah Sebuah Kota"
Post a Comment