Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap

Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap - Hallo sahabat Meta News, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Hologram, Artikel Sastra, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap
link : Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap

Baca juga


Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap

Nurhasanah masuk disusul suaminya. Aku begitu waspada sehingga langkah-langkah mereka di karpet plastik ruang depan kostku terdengar jelas. Sebentar lagi aku harus mempunyai jawaban dari beberapa pertanyaan sulit yang akan dilontarkan oleh Sangaji, suami Nurhasanah. Gaya diplomatis ala politisi kawakan yang sering bermain-main dengan makna bias tentu saja akan menjadi pilihan terbaik saat aku menjawab nanti.

Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap



Tiba-tiba tubuhku didorong oleh suami Nurhasanah. Membentur dinding dengan keras hingga bunyi berdegum lumayan kencang terdengar. Ia mencengkeram leherku dengan tangannya yang besar seperti sebuah tang. Urat nadi di leherku serasa menyempit dan membuatku sulit bernafas. Aku tak memalingkan sedikitpun mataku untuk menatapnya. Matanya merah menyala.

"Sekali lagi! Sekali lagi kamu ganggu istriku, kamu tinggal nama!"

Nurhasanah menjerit. Aku diam dan tidak bermaksud melawannya. Menganggukpun tidak. Gaya diplomatis ala politisi lenyap sudah. Antara tenggorokan yang tersekat dan menyadari bahwa pentungan kasti itu jauh dari jangkauanku, yang tersisa hanya seringai getir di ujung bibir.

Lama-kelamaan jepitan tangannya mengendur kemudian aku dihempaskan begitu saja. Aku terhuyung-huyung menahan tubuhku agar tidak terjerembab.

"Ayo pulang!!" bentaknya pada istrinya.

Dalam posisi jongkok yang tidak sempurna aku menatap mereka berlalu. Membiarkan Sangaji pergi tanpa sepatah katapun pembelaan yang ingin aku ucapkan. Tetapi, mengejar mereka dan berteriak-teriak seperti tukang siomay juga bukan pilihan yang bijak. Akhirnya yang kulakukan hanyalah mencoba mengembalikan semua kesadaran dan tegak kembali dengan kerah baju yang rapi seperti semula.

Tetangga-tetangga di perumahan Karawang Permai yang mendengar keributan itu berdatangan. Mereka bertanya ini dan itu, tapi aku hanya menjawab bahwa semuanya baik-baik saja.

Mereka pun berlalu.

Sesudah itu sepi.


Demikianlah Artikel Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap

Sekianlah artikel Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/04/chapter-11-kafilah-berlalu-anjing.html

0 Response to "Chapter 11 : Kafilah Berlalu, Anjing Tengkurap"

Post a Comment