Chapter 18 : Bara Yang Menunggu

Chapter 18 : Bara Yang Menunggu - Hallo sahabat Meta News, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Chapter 18 : Bara Yang Menunggu, kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya. mudah-mudahan isi postingan Artikel Hologram, Artikel Sastra, yang kami tulis ini dapat anda pahami. baiklah, selamat membaca.

Judul : Chapter 18 : Bara Yang Menunggu
link : Chapter 18 : Bara Yang Menunggu

Baca juga


Chapter 18 : Bara Yang Menunggu

Dengan gaji Cuma 300 ribu perak dalam sebulan, apa yang bisa aku lakukan jika hanya mengandalkan duit dari Yayasan Al Makmun. Boleh dibilang nasib kami sama dengan nasib siswa-siswa disini. Makan Cuma bisa Senin-Kamis. Jalan-jalan Cuma bisa ke sawah atau ke ladang.

Tetapi walaupun Cuma bisa memberi gaji 300 ribu perak, Maysaroh sudah berani berkacak pinggang, main suruh dan main perintah kayak kompeni kesasar.

Tadi waktu masuk ke kantor dan melintas tanpa menjatuhkan pandangannya ke arahku sedikitpun, dia berkata, "kalau berita tentang pak Burhan benar, lebih baik bapak dan Bu Nurhasanah mengundurkan diri saja, karena masih banyak yang mau mengajar disini."

Darah dalam tubuhku mendidih. Tanganku gatal ingin meraih asbak dan melempar ke arahnya. Entah ada sebuah dorongan yang mencegah aku untuk melakukan itu. Akhirnya aku Cuma bisa menjawab dengan nada gemetar, "baik, bu."

Aku kembali ke kelas dan menyapa murid-muridku lagi. Lina seperti biasanya, cengengesan, cengar-cengir begitu melihatku masuk kelas. Ika duduk merapat di dinding dan tersenyum tipis. Siswa-siswa lainnya terkesan menyesal melihatku masuk. Mereka sudah berharap kelas dipulangkan lebih awal. Pukul sebelas lebih dan aku belum masuk. Biasanya memang begitu.

Aku tidak tega melihat mereka dan tidak mau mengecewakan mereka pula. Akhirnya setelah berbasa-basi sebentar, kelas aku pulangkan lebih awal.

Ketika sedang merapikan buku, seseorang menyapaku.

"Pak?"

Lina sudah berdiri mematung di depanku.

"Ya, ada yang bisa bapak bantu, Lin?" tanyaku.

"Ihhhh. Bapak sok begitu." Katanya manja.

"Begitu? Jadi aku harusnya begini?" jawabku segenit mungkin sambil melenggokan bahu.

"Nanti sore bapak di rumah?" tanya Lina kembali.

"Ya, kenapa?"

"Lina mau main. Boleh?"

"Boleh! Ada apa?"

"Gak ada apa-apa. Mau minta diajarin bahasa Inggris. Tapi Bu Nur ga main nanti sore khan?" tanya sambil mengedipkan mata.

"Ga tahu." Jawabku ketus.

"Ya udah. Aku main ya pak?"

Aku menganggukkan kepala.

Dia berlalu sambil sesekali melihatku.

Anak itu?

Usia Lina 15 tahun. Sempat off tidak sekolah selama setahun sampai akhirnya masuk ke SMP Islam Al Makmun.

Tubuhnya bukan seperti anak 15 tahun, tinggi semampai, montok, kulitnya coklat eksotis, wajahnya manis sekali dengan hidung mancung. Dan payudaranya.? Ah kenapa aku ini ya

Dia memang menawan tapi aku tidak bodoh. Dan tentu saja gadis di bawah umur bukan pilihan yang cerdas untuk bermain-main, walaupun hanya sekedar bermain-main.

Dan kalau bermain-bermain dengan Lina, aku bukan saja sedang bermain api, tapi aku sedang meniup-niup bara.


Demikianlah Artikel Chapter 18 : Bara Yang Menunggu

Sekianlah artikel Chapter 18 : Bara Yang Menunggu kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.

Anda sekarang membaca artikel Chapter 18 : Bara Yang Menunggu dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/04/chapter-18-bara-yang-menunggu.html

0 Response to "Chapter 18 : Bara Yang Menunggu"

Post a Comment