Judul : Chapter 14 : Lolita Indigo
link : Chapter 14 : Lolita Indigo
Chapter 14 : Lolita Indigo
Seorang gadis di kelasku pernah bertanya, "kenapa bapak tidak shalat?"
Aku memilih diam dan tidak menjawab sembari berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik lainnya. Gadis itu, Ika istimewa buatku.
Walaupun mata pelajaran yang aku ajar adalah bahasa Inggris tetapi kadang-kadang aku mengajak mereka berbicara tentang hal lainnya.
| Sastra |
Bagi mereka, hidup itu memang tidak mudah. Masalah yang mereka hadapi beraneka ragam tetapi bisa diambil keseragaman yang sama. Ekonomi, duit, uang. Menyedihkan. Tetapi bukankah mereka memang tidak punya pilihan selain memeluk kesedihan itu sendiri. Harus memeluknya walaupun panas bagaikan bara, kadang dingin yang membuat kulit keriput karena membeku. Dalam segala keadaan yang sedih-memedih, kalut dan carut, aku takjub beberapa orang di antara mereka masih memiliki senyum yang melegakan. Tidak dibuat-buat pun tidak kupaksa. Mereka tersenyum. Jiwa kanak-kanak yang baru saja berlalu masih tersisa, keceriaan anak-anak diganti dengan hingar bingar masa remaja. Harusnya mereka bergembira, satu masa yang penuh dengan kenangan manis tiba.
Mereka seharusnya tidak perlu memikirkan lagi tentang apa yang musti mereka makan esok hari. Tetapi bagi sebagian dari mereka, jika tidak memikirkannya berarti besok mereka tidak makan. Bukan hanya memikirkan tetapi mereka musti melakukan sesuatu yang dapat menghasilkan uang.
Kerap kali aku jumpai wajah-wajah lesu di pagi hari. Pelajaran belum juga dimulai. Mata-mata yang redup, wajah pias, pucat. Bukan hanya belum sarapan tetapi dari kemarin sore mereka juga belum makan. Adalah sebuah perjuangan tersendiri mereka akhirnya menuruti bujukan bapak-ibunya agar mau sekolah. Walaupun ada beberapa orang yang akhirnya menyerah dan berhenti di tengah jalan. Kelas 2 yang aku ajar sebelumnya berjumlah 30 orang. 9 orang akhirnya tidak bisa melanjutkan bukan karena tidak ada biaya, karena memang mereka tidak dipungut biaya. Alasannya lebih dari itu, jika mereka sekolah hari ini, maka besoknya bukan hanya dia yang tidak makan tapi ibu dan adik-adiknya juga tidak makan.
Jadi, hampir setiap pagi aku perlu mempersiapkan uang lebih dari yang aku butuhkan untuk perjalanan pulang-pergi, tapi juga anggaran khusus untuk membelikan mereka sarapan. Sebuah lontong dan sebuah gorengan bakwan untuk satu orang. Jika uang yang kubawa tidak cukup, Mak Nung, kadang-kadang memberiku kelonggaran untuk ngutang dulu.
Kondisi anak-anak yang tidak kondusif seperti itu rupanya bukan hanya berakibat pada kualitas belajar, tapi juga sering terjadinya kesurupan yang dialami oleh mereka khususnya anak perempuan. Beberapa kali terjadi kesurupan massal dan menimbulkan kehebohan yang membuat bulu kudukku berdiri.
Awalnya aku tidak memperhatikan Ika. Hal ini baru kusadari setelah beberapa kali aku menjumpai kesurupan massal. Ika menyendiri di pojok dan wajahnya menyiratkan ekspresi yang campur aduk, seperti marah, sedih dan kesepian menjadi satu. Dia tidak kesurupan karena seluruh inderanya masih waras, ketika kutanya dia juga menjawab dengan benar. Hanya ekspresi wajahnya saja yang aneh.
Tanpa dia sadari aku pernah memperhatikannya lumayan lama. Aku melihatnya komat-kamit, seperti sedang berbicara dengan seseorang.
Mungkin aku perlu mengajaknya bicara suatu kali.
Ada sesuatu yang aneh, ajaib atau tidak normal pada anak itu.
Demikianlah Artikel Chapter 14 : Lolita Indigo
Sekianlah artikel Chapter 14 : Lolita Indigo kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 14 : Lolita Indigo dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/04/chapter-14-lolita-indigo.html
0 Response to "Chapter 14 : Lolita Indigo"
Post a Comment