Judul : Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab
link : Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab
Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab
Kepala sekolah SMP Islam Al Makmun adalah istri seorang anggota dewan. Aku sebutkan hal itu karena posisi di sini penting. Sebenarnya bukan hanya disini, dimanapun posisi seseorang itu penting. Orang penting suka bikin pening. Dan kita semua sudah mafhum akan hal itu. Bila dia hanya seorang kepala sekolah mungkin kita cuma manggut-manggut, tetapi kalau dia kepala sekolah yang suaminya seorang anggota dewan, boleh jadi bukan hanya kepala yang manggut-manggut, tapi mulut yang melongi atau bahkan nyinyir. Anggota dewan itu sebuah jabatan yang susah dicerna. Susah diambil kesimpulan berhubung dengan banyaknya kasus yang memalukan dan menjengkelkan hati nuraniku sebagai rakyat kecil.
| Sastra |
Siti Maysaroh, kepala sekolah SMP Al Makmun, bertubuh subur dan berusia sekitar 40 tahunan. Pembawaannya tenang, cenderung lamban menurutku. Yang paling mencolok darinya dan ini membuatku tidak menyukainya adalah ketidakpekaannya terhadap masalah yang para guru hadapi. Aku bahkan ragu apakah dia tidak peka atau sengaja tidak peka.
Dari awal konsep dan masterplan sekolah ini membingungkan. Atau hanya aku yang tidak bisa memahami apa yang mereka pikirkan. Sepertinya aku berada di dimensi yang berbeda.
Menurut mereka, dan ini aku dengar dari beberapa teman sesama guru, Aku tipikal murtadin yang harus dijauhi, kalau perlu di enyahkan sebelum virus yang aku bawa menulari yang lainnya.
Sekolah ini sekolah volunteer untuk anak-anak kaum dhuafa, yang tidak membebankan biaya sepeserpun dari para siswa. Sudah menjadi kewajiban para guru dan itu aku pahami dari awal mula bahwa motif uang harus dihilangkan.
Berkali-kali bahkan hampir setiap kali rapat dewan guru, kepala sekolah menjelaskan dan menekankan konsep ikhlas. Aku sampai hafal ayat yang biasa ia pergunakan untuk melegitimasi anjurannya itu.
Kupandang itu sebagai bentuk sikap yang indah, namun lambat laun ketika benih-benih kecurangan dan ketidakadilan mulai kentara, ceramah kepala sekolah membuatku ingin muntah.
Sikapku jelas terlihat dalam hati dan tindakan. Semua guru dapat melihat dan menilai bahwa aku, dan aku sendirian di sekolah tersebut yang menjadi oposisi. Kadang-kadang timbul pertanyaan : sejauh manakah agama mampu mempengaruhi pemeluknya untuk hidup lurus, jujur dan adil. Karena yang kulihat pengaruhnya hanya dalam pakaian dan bacot saja. Perilaku mereka? Sungguh aku berani taruhan, aku masih lebih baik dari pada mereka.
Para hedonis bukan hanya dari kalangan artis, gangster, bajingan, bencoleng, perek atau kelompok cap merah lainnya, tetapi mereka yang menganggap diri sebagai pejuang moral. Pejuang moral yang menggebu-gebu, lantang berbicara, bertingkah serupa sang pangeran keadilan, tetapi ternyata tidak kuat berjuang melawan keinginan dan nafsu angkara murka.
Aku teringat Sulaiman dan ikut merindukan cara hidup ideal yang sedang ia cari.
Para pejuang sejati selalu kesepian. Pemenang juga akan kesepian.
Jika kita tidak pernah kesepian, berarti kita tidak pernah berjuang dan tidak pernah menjadi pemenang. Mudah menjadi bagian dari buih-buih sebelum ombak yang sebenarnya datang. Mereka selalu mencari bagian lautan yang tenang tapi kotor. Laut yang bersih tidak pernah berbuih kecuali di bagian tepinya. Sesaat setelah ombak memecah pantai.
Tapi sebenarnya aku berjuang untuk apa dan untuk siapa? Jujur saja aku tidak tahu. Karena sekarangpun aku tidak tahu apa yang kuperjuangkan. Aku berjanji dalam hati suatu saat aku akan menemukan sebuah idealisme yang membuatku bukan hanya mau dan rela berjuang tapi juga ikhlas mengorbankan jiwa dan raga. Hidup dengan ide tertinggi yang membuatku bersemangat bangun pagi seperti matahari yang tidak pernah lelah bersinar dari jaman yang tidak pernah tercatat oleh waktu hingga era milenium yang menjadikan waktu carut-marut.
Walaupun aku tidak tahu dari mana memulai pencarianku ini. Spiritualitas di abad modern menjadi semakin membingungkan. Bukan hanya buatku tetapi nampaknya bagi semua orang termasuk orang-orang yang seolah-olah merasa telah menemukan kebenaran sejati.
Demikianlah Artikel Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab
Sekianlah artikel Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/04/chapter-13-ombak-yang-terjerembab.html
0 Response to "Chapter 13 : Ombak Yang Terjerembab"
Post a Comment