Judul : Chapter 12 : Burung di Atas Dawai
link : Chapter 12 : Burung di Atas Dawai
Chapter 12 : Burung di Atas Dawai
Aku, bagaikan burung yang lepas dari sangkar.
Tapi sebelah sayapku tetap tertinggal di dalamnya
Terbang dengan satu sayap
Membuatku tak leluasa menukik apalagi hinggap
Kekiri kumau
Oleng ke kanan akhirnya aku terjerembab
| Sastra |
Sesudah kejadian itu aku berusaha menyibukkan diri dengan mengajar dan menulis. Aku masih mengajar di sekolah itu. Setiap hari aku melihatnya. Tetapi kami tak pernah lagi berbicara. Dia datang ketika bel masuk berbunyi dan langsung pulang begitu sekolah usai. Kadang-kadang aku sengaja berlama-lama untuk masuk kelas, menunggu hingga dia datang.
Dia menatapku sekali lalu langsung masuk ke kelasnya. Aku begitu tersiksa hingga jatuh sakit selama berhari-hari. Aku tahu dia juga tersiksa.
Terbaring lemah karena sakit tipes, sendirian tanpa seorangpun kerabat atau teman yang menjagaku. Les privat aku liburkan sementara.
Kadang-kadang aku berhalusinasi. Sering terserang demam tinggi ditambah lagi derita karena tubuh yang kosong karena tak secuilpun makanan yang berhasil aku makan tanpa memuntahkannya kembali. Mungkinkah sebentar lagi aku akan mati. Di kontrakanku dan sendirian.
Seharusnya aku bunuh diri seperti Van Gough, pelukis nista yang tiba-tiba menjadi jutawan saat tubuhnya sudah tak bisa merasakan nikmatnya menghabiskan uang jutaan dolar dalam semalam. Tapi Van Gough sudah berhasil membuat beberapa lukisan saat ajal menjemput. Aku belum menyelesaikan satu novelpun. Bukan hanya jasadku yang akan mati tapi semua tentangku juga akan mati. Memikirkan hal itu demamku semakin tinggi.
Aku benar-benar akan mati rupanya.
Selama 2 hari aku berjuang agar ingatanku tetap waras. Sesakit apapun, semenderita apapun, aku harus selalu ingat bahwa belum pernah ada satupun yang kuhasilkan dalam hidup. Aku harus tetap hidup. Entah bagaimanapun caranya. Mengingat hal-hal yang indah yang pernah terjadi dan yang tak pernah aku nikmati membuatku ingin berumur lebih lama lagi. Ada saat-saat dimana aku tak mampu lagi untuk menahan rasa sakit, aku menyerah dan menghempaskan jiwaku dalam lorong panjang yang gelap dan sepi. Aku pasrah.
Mungkin Tuhan bisa membantuku kali ini.
Setelah beberapa hari, barulah Sulaiman datang dan menjagaku. Walaupun hanya di siang hari cukup membuatku bergairah dengan obrolan-obrolan kami tentang kesemestaan. Impian-impiannya tentang hidup yang tak pernah menyakiti, tentang the Law of attraction yang inspiratif, tentang cinta dan seks dan tentang kemajuan yang ia dapatkan setelah menerapkan beberapa konsep itu.
"Semuanya harus dipandang sebagai bayangan adanya. Dunia ini plastik. Kita bisa membentuknya sesuai dengan yang kita mau. Mas Burhan lebih mempercayai dunia ini seperti dunia apa adanya atau cuma bayang-bayang semu yang menipu?" jelasnya beretorika.
Semangatnya meluap-luap jika sudah berbicara tentang konsepnya itu. Walaupun aku tahu ia mengetahui hal itu dari hasil membaca buku ini dan buku itu. Tapi tampaknya dia tipe orang yang mudah menyerap dari apa yang dibacanya.
"Semu. Cuma bayangan yang dalam sekejap bisa berubah atau bahkan menghilang, Pak." Jawabku berusaha terdengar bersemangat. Aku memanggilnya pak, karena usianya memang jauh lebih tua. Entah sudah berapa kali dia mengajukan pertanyaan yang sama padaku. Ia selalu ingin menegaskan kembali apa yang ingin ia yakini. Tak seorangpun yang dapat memahami tentang apa yang ia bicarakan kecuali aku. Dalam beberapa hal aku dituntut untuk mengamini keyakinannya, jarang sekali terjadi perdebatan yang berarti antara kami. Itu semua karena aku juga meyakini apa yang diyakininya. Kami hanya perlu berlatih lebih giat agar mampu memahami lebih dalam tentang teori-teori tersebut. Memandang hidup sebagai sebuah anugerah yang tak bernilai.
Hidup sebagaimana adanya hidup.
Tanpa harus bergelimang harta atau dikerubungi banyak orang. Hidup bahagia dengan hidup yang sedang kami jalani. Berterima kasih kepada Tuhan, berterima kasih kepada alam, berterima kasih kepada orang-orang yang bersedia singgah di kehidupan kita. Karena secara tidak langsung mereka sedang menyampaikan pesan dari Tuhan. Lebih dari itu, berterima kasih kepada kehidupan. Kelak kehidupan akan memberikan nikmatnya yang tiada tara.
Sulaiman dan Aku sama-sama sedang berguru kepada sang Maha Guru. Alam semesta.
Sebenarnya ia mempunyai karier yang fantastis di salah satu perusahaan transportasi di Karawang. Dan itu dicapainya mulai dari nol. Sebagai lulusan SMP awalnya ia diterima sebagai helper atau kenek. Cita-citanya yang ingin hidup enak dan layak membuatnya gila kerja. Ia tidak akan pernah pulang sebelum bosnnya pulang. Semua yang bisa ia kerjakan ia kerjakan tak peduli apakah itu merupakan bagian pekerjaannya atau bukan. Lama-lama ia mendapatkan posisi yang lebih bagus. Ia lebih giat lagi bekerja dan mengambil persamaan SMA, dilanjutkan dengan kuliah malam di sebuah kampus khusus karyawan di Karawang. Sampai kemudian ia diangkat sebagai kepala bagian cabang perusahaan tersebut di Karawang. Makanya ia sering kali berkata jika kerja keras dan kita memakai otak kita apapun yang kita inginkan akan tercapai. Tetapi otak kita mempunyai keterbatasan yang hanya bisa belajar dari masa lalu, belajar dari apa yang pernah dicapai oleh orang lain. Dan entah kenapa biasanya itu tidak akan bersinergi dengan alam semesta.
"Sudah saatnya mas, kita meminta panduan kepada sang maha pintar yang bersemayam di dalam jiwa kita. Kita selama ini selalu melalaikan keberadaanya. Ia butuh teman, ia ingin diajak bicara dan sebagai balasannya ia mampu memandu kita ke kehidupan yang mulia."
"Ia berwujud anak kecil yang terhubung ke alam semesta. Layaknya anak kecil ia suka bermain. Ia tidak pernah dewasa. Ia selalu ingin bersenang-senang. Jika kita susah, ia memilih untuk meninggalkan kita."
"Alam semesta berubah, menyebar dan melebar. Elastisitasnya seelastis kehidupan yang kita jalani. Kita hanya perlu mensinergikan perasaan kita dengan alam semesta, dan lihatlah apa yang akan terjadi. Kita akan takjub dengan kehidupan yang akan kita jalani."
"Tubuh kita juga hanya sebatas bayangan yang memerangkap jiwa. Sebagaimana benda lain di muka bumi, Mas Burhan hanya perlu memerintahkan tubuh mas Burhan agar sembuh. Dan pasti ia akan sembuh. Ia budak dan bukan tuan bagi kita. Perintahkan apa yang kita mau dan ia akan tunduk setunduk-tunduknya pada kita."
Kehadiran Sulaiman membuatku bersemangat dan hari-hari selanjutnya berangsur-angsur pulih. Aku mencoba menerapkan meditasi untuk penyembuhan tubuhku sendiri.
Aku sedang bermeditasi ketika pintu rumahku terdengar dibuka oleh seseorang. Aku tidak pedulikan karena biasanya Sulaiman yang datang. Namun setelah beberapa lama tak kudengar suara khasnya yang selalu menanyakan kabarku hari ini. Aku mencium sebuah aroma parfum yang akrab kucium dan menggoda.
Aku membuka mata. Dan sosok Nurhasanah sedang mematung berdiri tepat di depanku.
Kami bersitatap lama.
Lalu dia menangis.
Aku tersenyum. Tubuhnya ambruk dan segera kudekap erat.
"Shhhhh... aku masih sakit." Godaku.
"Ga peduli!"
Kami berpelukan lama.
"Tubuhmu bau asem!" katanya.
"Tujuh hari aku nggak mandi." Candaku sambil memamerkan gigiku yang berwarna kuning jambu karena selama sakit hanya kupakai untuk makan, minum, makan, minum tanpa sekalipun aku bersihkan.
Demikianlah Artikel Chapter 12 : Burung di Atas Dawai
Sekianlah artikel Chapter 12 : Burung di Atas Dawai kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 12 : Burung di Atas Dawai dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/04/chapter-12-burung-di-atas-dawai.html
0 Response to "Chapter 12 : Burung di Atas Dawai"
Post a Comment