Judul : Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal
link : Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal
Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal
Sungguh aku benar-benar menghormati Maysaroh.
Bukan karena ia istri seorang anggota dewan. Persetan dengan anggota dewan. Tak sedikitpun rasa hormatku pada institusi itu saat ini. Bukan karena kebencian yang membabi buta tetapi naluri dan hati kecilku akan memberontak apabila Aku memberi rasa hormat pada mereka walaupun sedikit. Telah nyata keculasan dan ketidakpekaan mereka terhadap kami, rakyat kecil. Dan telah nyata pula apa yang kulihat disini.
![]() |
| Sastra |
Tapi bukan hanya dia saja. Aku menaruh hormat kepada guru-guru bahkan penjaga sekolah sekalipun. Aku merasa nyaman, merasa tercerahkan disini. Semua guru perempuannya berjilbab, yang pria juga penuh dengan ciri-ciri kesolehan. Berjanggut dan bercelana di atas lutut. Tanda-tanda bahwa mereka betul-betul menjaga kesucian lahir dan juga batin. Semuanya saling mengingatkan tentang yang baik dan yang buruk. Semuanya rajin berzikir.
Oh ya, termasuk di dalamnya Nurhasanah.
Sedangkan aku?
Aku adalah hamba yang sedang mencari jalan pulang. Aku rindu dengan kedamaian yang telah lama hilang. Rindu dikelilingi hati-hati yang ikhlas dan tanpa pamrih. Aku rindu dengan rahmat dan kasih sayang Tuhan yang membumi, me-nyata di alam raya.
Tetapi aku dianggap mereka sebagai orang yang aneh.
Padahal aku adalah orang yang sedang kebingungan.
Dan ketika affair kami diketahui oleh beberapa orang, kemudian menyebar dan kemudian hampir seluruh warga sekolah tahu, bahkan beberapa siswa walaupun dengan pertanyaan yang sangat sopan, menanyakan kebenaran berita itu, aku bukan saja dianggap aneh tapi juga berbahaya.
Aku dianggap berbahaya pada saat mereka telah kehilangan rasa hormat dariku. Jadi impas. Tak mengapa dan aku bisa melenggang tanpa beban.
Kupandangi sekolah ini dengan perasaan campur aduk. Masjid yang berdiri kokoh di depannya kadang-kadang membuatku begitu rindu dengan entah apa. Masjid itu putih, megah dan .lengang. Kecuali para siswa dan guru SMP Al Makmun tak seorangpun warga sekitar yang terlihat shalat di siang hari.
Masjid itu putih, megah tapi sering kulihat lantainya berdebu tebal. Halaman depannya dibiarkan gersang tanpa satu batangpun tanaman. Cuma pasir dan kerikil-kerikil kecil.
Aku menghempaskan pantat di kursi panjang warung Mak Nung. Penat setelah seharian menghadapi anak-anak yang kadang otaknya seperti terseumbat biji rambutan langsung hilang begitu mendengar sapaan Mak Nung disertai seringai giginya yang kecoklatan. Sejenak kemudian kopi yang panas mengepulkan asap telah terhidang siap diseruput. Wanita tua ini memang numero uno. Mantaap.!!!
Baru seteguk kopi merasuk ke tenggorokan, Ano, guru PPKN datang.
"Pak Burhan dipanggil Bu Maysaroh di kantor." Katanya.
"Ada apa pa? Gajian dipercepat ya?" jawabku sambil bercanda.
Ano, salah satu temanku yang cukup akrab di sekolah ini. Badannya tegap, gayanya cuek, bau badannya sangat khas, dia tidak pernah pakai deodoran untuk ketiaknya. Kadang-kadang aku harus mengambil jarak cukup jauh kalau ngobrol dengannya.
"Nggak tahu. Tapi kayaknya." Dia berhenti. Wajahnya menyeringai lalu menggeram seperti harimau.
"Waduh! Gawat rupanya."
Aku tidak menggubris kata-kata Ano selanjutnya. Mau gawat, mau genting tidak peduli. Aku langsung ke kantor dan meninggalkan kopi yang masih mengepul.
Sayang sekali.
Maysaroh betul-betul tidak boleh melihat orang senang kayaknya.
Demikianlah Artikel Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal
Sekianlah artikel Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal kali ini, mudah-mudahan bisa memberi manfaat untuk anda semua. baiklah, sampai jumpa di postingan artikel lainnya.
Anda sekarang membaca artikel Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal dengan alamat link https://infoasikindo.blogspot.com/2013/04/chapter-16-kopi-panas-yang-tertinggal.html

0 Response to "Chapter 16 : Kopi Panas Yang Tertinggal"
Post a Comment